Kamis, 09 Januari 2014

The Second - Fanfiction

MY STORY


Well,ini cerita tentang asal mula OC (other character) saya di anime Saint Seiya. Gomen kalau ceritanya agak sedikit ngaco,but... Enjoy :D

OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO

Prolog :
Italy,di sebuah desa kecil bernama Siena.
Hujan deras mengguyur dataran tinggi eropa tersebut.
Membuat penduduk di sekitar sana tidak berani keluar dari tempat tinggal mereka.
 “ OEEE..OEEE.. ”
Suara tangis seorang bayi terdengar di malam buta, membuat orang yang mendengarnya menjadi terjaga dari rasa kantuk yang telah datang menyerangnya.
Seorang pria bersurai hitam sedang berdiri di sebelah wanita berambut gandum,ia sedang menggendong seorang bayi perempuan berambut merah yang berada di dekapannya.
“ Tinggal kan dia, Persephone ” Ucap pria bersurai hitam tersebut pada wanita berambut gandum yang berada di sebelahnya.
“ Tapi, Hades ” Potong wanita berambut gandum tersebut sembari mendekap bayi itu dengan erat, ia tak ingin melepaskannya.
“ Aku tahu, tapi kita tidak bisa membiarkan-nya bersama kita terus .. terlalu berbahaya ” Ucap pria itu dengan nada tegas.
“ Ya, aku mengerti ” Ucap wanita tersebut, tersirat kesedihan di iris bola mata hazel miliknya.
“ Maaf kan ibu sayang ” Ucap wanita itu lagi sembari mengecup kening bayi itu untuk terakhir kalinya.
Wanita tersebut menidurkan bayinya di sebuah keranjang kayu yang berada di depan sebuah pondok penduduk.
“ Maaf kan ibu ” Guman wanita itu sebelum berjalan pergi meninggalkan bayi-nya di luar sana.
Sendirian, kedinginan dan kelaparan.

OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO

..Siena, 10 tahun kemudian..
Seorang gadis berambut merah ikal sedang menyusuri jalanan desa tersebut, senandung kecil terdengar dari balik bibirnya.
Di tangannya terdapat sekeranjang apel merah yang baru saja di petiknya di hutan, seulas senyum terukir di wajah manis-nya.
“ Ibu .. ” Teriak gadis itu ketika melihat wanita berambut pirang yang sedang menjajakan barang dagangannya kepada beberapa pembeli yang mengunjungi kiosnya.
“ Kano, bisa bantu ibu sebentar ” Panggil wanita berambut pirang tersebut yang sedikit kewalahan meladeni para pembeli yang mulai berdatangan.
“ Baik .. ” Ucap gadis bernama Kano tersebut yang langsung menyambar sebuah celemek dan mulai melayani para pembeli.

OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO

“ Dan sekarang, sungai styx menjadi sungai pengantar orang yang telah meninggal menuju ke dunia bawah dan Tartarus .. Dan juga, menjadi saksi bisu ketika dewa kematian Hades dan dewi kesuburan Persephone bertemu kembali setelah berabad – abad silam berpisah ” Guman Kano yang baru selesai membaca sebuah buku yang berjudul ‘ The iron Queen ’.
“ Ibu .. ” Panggil kano pada wanita berambut pirang yang sedang berada di dapur.
“ Ada apa Kano ? ” Tanya wanita bernama Lucyana Reiko tersebut yang masih mencuci peralatan makan.
“ Kenapa dewi Persephone kembali lagi ke dunia bawah bersama Hades, padahal kan ia sangat menyukai keindahan musim semi di bumi ” Ucap gadis itu lagi sembari menghampiri ibunya.
“ Bagaimana ya .. ibu sendiri juga kurang faham akan hal itu,
Tapi .. menurut ibu dewi Persephone kembali ke dunia bawah karena rasa
cintanya kepada sang suami lebih besar dari rasa cintanya pada sang ibu ” Jelas Reiko pada gadis berambut merah yang berada di sebelahnya.
“ Jadi karena itu .. dewi Persephone lebih memilih suaminya dewa Hades daripada ibunya sendiri, dewi Dementer ” Lanjut Kano dan disetujui oleh anggukan sang ibu.
“ Ya, benar sekali .. ternyata Kano faham akan hal itu ” Ucap Reiko sembari mengacak – acak surai merah putrinya itu.
Hening untuk beberapa saat, sampai wanita berambut pirang itu membuka suaranya lagi.
“ Sudah malam, waktunya tidur .. oyasuminasai ” Ucap Reiko sembari mengecup kening Kano.
“ Oyasuminasai, bu ” Ucap Kano sembari berjalan menuju kamarnya.

OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO

..Underworld, river Styx..
“ Macaria .. ” Guman seorang wanita berambut gandum yang sedang duduk di tepi sungai Styx.
Bola mata hazel-nya menatap sendu sungai Styx dari tepinya.
Wanita bernama Persephone itu menghela nafas begitu mengingat nama putrinya yang ia lahirkan dulu. Nama yang secantik rupa malaikat kecilnya. Ia tidak akan pernah bertemu lagi dengan putrinya karena sumpah dari sang ibu di kala itu. Kalau saja hal itu tidak terjadi, mungkin sekarang ia dapat melihat putrinya tumbuh dewasa menjadi seorang gadis yang cantik dan anggun.
..Flashback..
“ Bunuh bayi itu sekarang, Persephone ” Perintah seorang wanita berambut pirang pucat pada putrinya.
“ Tidak, ibunda .. aku tidak akan pernah membunuh bayi ini ” Ucap Persephone sembari mempererat dekapannya pada sang bayi, berusaha melindunginya.
“ Ibu tidak akan sudi mempunyai keturunan seperti dia, apa lagi bayi itu hasil hubungan mu dengan suami brengsek mu itu ” Ucap wanita bernama Dementer itu sembari mengacungkan tongkat kekuasaan-nya ke depan wajah Persephone.
“ Tapi ibunda .. ” Ucap Persephone.
“ Bunuh bayi itu sekarang, Persephone .. atau ibu yang akan membunuhnya ” Ucap Dementer dengan lantang, membuat Persephone sangat terkejut akan perubahan sifat ibunya tersebut.
“ Ada apa ini ” Potong seorang pria bersurai hitam ikal yang baru saja datang ke tempat itu.
“ Ho .. ternyata kau datang di saat yang tepat, Hades .. cepat bunuh bayi itu, atau aku yang akan membunuhnya sekarang ” Ucap Dementer dengan nada angkuh pada pria di depannya.
“ Apa mau mu, Dementer .. apa kau belum puas akan janji yang kau buat dulu, bedebah ” Pria bernama Hades itu berkata lantang pada kakak perempuannya yang tiba – tiba datang ke dunia bawah dan langsung berkata bahwa ia akan membunuh putrinya.
Hades mengacungkan pedang hitamnya tepat di depan batang hidung Dementer. Mata hijau zamrudnya menunjukkan kebencian luar biasa pada putri sulung Cronos dan Rhea itu.
“ Macaria adalah ratu dunia bawah, dan putriku ! Macaria juga yang menjadi keindahan tersendiri bagi kami berdua. Kami bersyukur karena memiliki seorang putri yang kelak akan meneruskan kekuasaan kami. Dan sekarang kau mau membunuh putriku ! Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi ” Ucap Hades lantang, membuat seluruh penghuni dunia bawah bergidik takut. Belum pernah sang dewa semurka itu.
Dementer sedikit terkejut mendengar hal itu. Namun sedetik kemudian ia tertawa lepas mendengar perkataan yang baru saja dilontarkan oleh Hades.
“Hahaha .. kau pikir aku akan takut dengan ancaman mu itu ” Ucapnya dengan nada mengejek, membuat dewa yang berada di depannya semakin geram.
“ Kau .. ” Akhirnya, Hades berhasil menghempaskan tongkat dan tubuh Dementer. Tongkat kekuasaan-nya terlempar beberapa meter dari dewi berambut pirang pucat itu. Mata pedang Hades pun hanya berjarak beberapa senti dari wajah Dementer.
“ Tunggu Hades, jangan lakukan itu ” Cegah Persephone yang berada di sebelah Hades.
“ Kali ini kau ku maaf kan, Dementer ” Ucap Hades dengan nada dingin, namun dewi berambut pirang pucat itu malah membalasnya dengan senyum mengejek.
“ Kau salah mengambil keputusan, Hades .. suatu hari nanti, pasti aku akan membunuh anak itu ” Guman Dementer sembari menyunggih kan sebuah seringai.
..End Flashback..
“ Persephone .. ” Panggil seorang pria bersurai hitam yang berada di belakang Persephone.
“ Hades ” Ucap Persephone sedikit terkejut.
“ Kenapa kau disini ? ” Tanya Hades sembari duduk di sebelah wanita berambut gandum itu.
“ A-ku .. a-ku ... ” Ucap Persephone gelagapan, lantaran ia sendiri bingung harus menjawab apa.
“ Sudahlah, tidak usah dijawab .. aku tahu kau sedang memikirkan apa ” Tutur Hades.
“ Sudah lama kita tidak melihat ‘dia’ ” Ucap hades, iris zamrud-nya menatap sendu sungai Styx.
“ Ya, kau benar Hades .. aku rindu sekali dengannya ” Ucap Persephone lirih, namun masih dapat di dengar oleh pria di sebelahnya.

OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO

” Ingat Kano, jangan kembali terlalu sore .. nanti kau bisa tersesat di hutan ” Tutur wanita paruh baya itu pada gadis berambut merah yang berada di hadapannya.
“ Iya, baik .. jam 4 tepat aku kan pulang, ibu tidak usah khawatir akan hal itu ” Ucap Kano yang sudah berada di ambang pintu sembari melambaikan tangannya ke arah wanita berambut pirang tersebut.
“ Hati – hati di jalan, Kano ” Ucap wanita itu lagi.
..Sore hari, di Siena..
Hari sudah petang, gadis berambut merah tersebut melangkahkan kakinya menuju desa tempat ia tinggal.
Senandung kecil terdengar mengiringi langkah kaki mungilnya, iris hijau itu menyiratkan kebahagiaan akan sekeranjang apel yang telah dipetik-nya di hutan.
Namun langkahnya berhenti ketika ia melihat pemandangan yang berada di depannya.
Jasad penduduk desa yang tergeletak disana – sini, darah yang menggenang di sepanjang jalan dan rumah – rumah penduduk desa yang terlalap oleh kobaran api.
“ Ti-tidak mungkin ” Ucap Kano masih tidak percaya akan hal yang baru saja dilihatnya.
Se-detik kemudian terlintas dibenaknya sebuah nama yang membuat firasatnya menjadi buruk.
“ IBU ... ” Teriak Kano sembari menerobos kobaran api yang berasal dari dalam rumah – rumah penduduk desa.
 Tak lama kemudian, ia sampai di depan rumahnya.
Di bukanya pintu kayu tersebut, dan yang dilihatnya se-detik kemudian lebih menyeramkan dari apa yang ada di dalam fikirannya.
Seorang wanita berambut pirang telah tergeletak tak bernyawa di hadapannya.
Noda darah telah menghiasi pakaian biru yang ia kenakan.
“ Ti-tidak, ibu .. jangan mati, jangan tinggalkan Kano sendirian ” Isak gadis berambut merah itu ketika berada di sebelah jasad ibunya.
Bau anyir darah memenuhi ruangan tersebut, membuat kepala gadis bernama Kano itu menjadi sangat berat.
Pandangannya menjadi buram.Yang diingatnya hanyalah kegelapan pekat yang datang menyelimuti penglihatannya dan bunyi benda jatuh yang mengganggu pendengarannya, mungkin kah itu tubuh-nya ?

OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO

” Ugh .. ” Erang Kano yang baru sadar.
Diedarkannya pandangannya ke sekelilingnya, sebuah ruangan berdiameter 3x3 meter dengan cat berwarna putih gading.
Sebuah kamar, sejak kapan ia sudah berada di sini.
“ Kau sudah sadar ” Tanya pemuda berambut hijau yang baru masuk ke ruangan tersebut, di tangannya terdapat sebuah nampan yang berisikan sebuah mangkuk sup.
“ Dimana ini ? ” Tanya Kano pada pemuda asing yang berada di sebelahnya.
“ Ini dirumahku, aku menemukan mu saat aku akan kembali ke rumah ” Tutur pemuda itu sembari menaruh mangkuk supnya di atas sebuah meja.
“ Oh ya, perkenalkan namaku Degel .. kalau nama mu ? ” Ucap pemuda berambut hijau itu sembari menyunggihkan sebuah senyuman hangat.
“ Kano, Itsuki Kano ” Jawab Kano dengan sekenanya.
“ Nama yang bagus ” Puji Degel, terlihat semburat merah tipis di kedua pipi Kano.
“ Makan lah, kau pasti lapar .. aku akan keluar sebentar, kalau kau perlu sesuatu panggil aku saja ” Ucap Degel sembari ia langkah kan kakinya menuju ke depan pintu yang telah terbuka.
“ Arigato ( terima kasih ) ” Ucap Kano lirih menatap siluet pemuda berambut hijau yang perlahan – lahan mulai menghilang di belokan lorong rumah tersebut.

OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO

...Rodorio, 2 bulan kemudian...
..Di desa kecil yang terletak di pinggir kota Athen’s..
“ Ano, Degel – sensei .. kenapa kita harus pergi ke tempat yang bernama Sanctuary ? ” Tanya Kano pada pemuda yang berada di sebelahnya.
“ Karena kita harus melindungi Athena-sama ” Jawab Degel singkat.
“ Athena-sama itu siapa, sensei ? ” Tanya Kano lagi, ia tidak paham akan hal yang dikatakan pemuda yang ia anggap sebagai gurunya barusan.
“ Athena-sama itu adalah orang yang melindungi kita selama ini, jadi sebagai gantinya kita juga harus melindungi beliau ” Tutur Degel, seulas senyum terukir diwajahnya.
“ Oh.. ” Ucap Kano lirih.
“ Nah, sekarang kita sudah sampai ” Ucap Degel lagi, dihentikannya langkah kakinya begitu melihat tempat yang dituju-nya sudah didepan mata.
 “ Selamat datang di Sanctuary, tempat yang akan menjadi rumah baru mu sekarang ” Ucap Degel tersenyum pada sosok gadis berambut merah disebelahnya.

...
...
...
...Bersambung...


OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO

/hening/
Uwaaaa.... Saya nggak tau harus ngomong apa >< *slap*

Btw,kalau ceritanya gaje. Gomen, gomen na sai. Saya nggak tau ceritanya harus kayak gimana lagi^^" *seketika digeblak*

Errr... Untuk cerita ini mungkin saya bikin beberapa chapter. Ini baru chapter pertama, dan chapter kedua masih dalam pengerjaan :)

Jadi,buat yang penasaran sama ceritanya. Silahkan menunggu tukang batagor yang ada didekat rumah saya :'D *disambit sendal* /nggakadahubungannyaoiii

Ja matte,minna~ *lambai - lambai sapu tangan*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar