MY
STORY
Well,ini cerita tentang asal mula OC (other character) saya di anime Saint Seiya. Gomen kalau ceritanya agak sedikit ngaco,but... Enjoy :D
OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO
Prolog :
Hujan
deras mengguyur dataran tinggi eropa tersebut.
Membuat
penduduk di sekitar sana tidak berani keluar dari tempat tinggal mereka.
“ OEEE..OEEE.. ”
Suara
tangis seorang bayi terdengar di malam buta, membuat orang yang mendengarnya menjadi
terjaga dari rasa kantuk yang telah datang menyerangnya.
Seorang
pria bersurai hitam sedang berdiri di sebelah wanita berambut gandum,ia sedang
menggendong seorang bayi perempuan berambut merah yang berada di dekapannya.
“
Tinggal kan dia, Persephone ” Ucap pria bersurai hitam tersebut pada wanita
berambut gandum yang berada di sebelahnya.
“
Tapi, Hades ” Potong wanita berambut gandum tersebut sembari mendekap bayi itu
dengan erat, ia tak ingin melepaskannya.
“
Aku tahu, tapi kita tidak bisa membiarkan-nya bersama kita terus .. terlalu
berbahaya ” Ucap pria itu dengan nada tegas.
“
Ya, aku mengerti ” Ucap wanita tersebut, tersirat kesedihan di iris bola mata
hazel miliknya.
“
Maaf kan ibu sayang ” Ucap wanita itu lagi sembari mengecup kening bayi itu
untuk terakhir kalinya.
Wanita
tersebut menidurkan bayinya di sebuah keranjang kayu yang berada di depan
sebuah pondok penduduk.
“
Maaf kan ibu ” Guman wanita itu sebelum berjalan pergi meninggalkan bayi-nya di
luar sana.
Sendirian,
kedinginan dan kelaparan.
OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO
..Siena,
10 tahun kemudian..
Seorang
gadis berambut merah ikal sedang menyusuri jalanan desa tersebut, senandung
kecil terdengar dari balik bibirnya.
Di
tangannya terdapat sekeranjang apel merah yang baru saja di petiknya di hutan,
seulas senyum terukir di wajah manis-nya.
“ Ibu ..
” Teriak gadis itu ketika melihat wanita berambut pirang yang sedang menjajakan
barang dagangannya kepada beberapa pembeli yang mengunjungi kiosnya.
“ Kano,
bisa bantu ibu sebentar ” Panggil wanita berambut pirang tersebut yang sedikit
kewalahan meladeni para pembeli yang mulai berdatangan.
“ Baik ..
” Ucap gadis bernama Kano tersebut yang langsung menyambar sebuah celemek dan
mulai melayani para pembeli.
OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO
“ Dan
sekarang, sungai styx menjadi sungai pengantar orang yang telah meninggal
menuju ke dunia bawah dan Tartarus .. Dan juga, menjadi saksi bisu ketika dewa
kematian Hades dan dewi kesuburan Persephone bertemu kembali setelah berabad –
abad silam berpisah ” Guman Kano yang baru selesai membaca sebuah buku yang
berjudul ‘ The iron Queen ’.
“ Ibu ..
” Panggil kano pada wanita berambut pirang yang sedang berada di dapur.
“ Ada apa
Kano ? ” Tanya wanita bernama Lucyana Reiko tersebut yang masih mencuci
peralatan makan.
“ Kenapa
dewi Persephone kembali lagi ke dunia bawah bersama Hades, padahal kan ia
sangat menyukai keindahan musim semi di bumi ” Ucap gadis itu lagi sembari
menghampiri ibunya.
“ Bagaimana ya .. ibu sendiri juga kurang
faham akan hal itu,
Tapi ..
menurut ibu dewi Persephone kembali ke dunia bawah karena rasa
cintanya
kepada sang suami lebih besar dari rasa cintanya pada sang ibu ” Jelas Reiko
pada gadis berambut merah yang berada di sebelahnya.
“
Jadi karena itu .. dewi Persephone lebih memilih suaminya dewa Hades daripada
ibunya sendiri, dewi Dementer ” Lanjut Kano dan disetujui oleh anggukan sang
ibu.
“
Ya, benar sekali .. ternyata Kano faham akan hal itu ” Ucap Reiko sembari
mengacak – acak surai merah putrinya itu.
Hening
untuk beberapa saat, sampai wanita berambut pirang itu membuka suaranya lagi.
“
Sudah malam, waktunya tidur .. oyasuminasai ” Ucap Reiko sembari mengecup
kening Kano.
“
Oyasuminasai, bu ” Ucap Kano sembari berjalan menuju kamarnya.
OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO
..Underworld,
river Styx..
“ Macaria
.. ” Guman seorang wanita berambut gandum yang sedang duduk di tepi sungai Styx.
Bola mata
hazel-nya menatap sendu sungai Styx dari tepinya.
Wanita
bernama Persephone itu menghela nafas begitu mengingat nama putrinya yang ia
lahirkan dulu. Nama yang secantik rupa malaikat kecilnya. Ia tidak akan pernah
bertemu lagi dengan putrinya karena sumpah dari sang ibu di kala itu. Kalau
saja hal itu tidak terjadi, mungkin sekarang ia dapat melihat putrinya tumbuh
dewasa menjadi seorang gadis yang cantik dan anggun.
..Flashback..
“ Bunuh
bayi itu sekarang, Persephone ” Perintah seorang wanita berambut pirang pucat
pada putrinya.
“ Tidak,
ibunda .. aku tidak akan pernah membunuh bayi ini ” Ucap Persephone sembari
mempererat dekapannya pada sang bayi, berusaha melindunginya.
“ Ibu
tidak akan sudi mempunyai keturunan seperti dia, apa lagi bayi itu hasil
hubungan mu dengan suami brengsek mu itu ” Ucap wanita bernama Dementer itu
sembari mengacungkan tongkat kekuasaan-nya ke depan wajah Persephone.
“ Tapi
ibunda .. ” Ucap Persephone.
“ Bunuh
bayi itu sekarang, Persephone .. atau ibu yang akan membunuhnya ” Ucap Dementer
dengan lantang, membuat Persephone sangat terkejut akan perubahan sifat ibunya
tersebut.
“ Ada apa
ini ” Potong seorang pria bersurai hitam ikal yang baru saja datang ke tempat
itu.
“ Ho ..
ternyata kau datang di saat yang tepat, Hades .. cepat bunuh bayi itu, atau aku
yang akan membunuhnya sekarang ” Ucap Dementer dengan nada angkuh pada pria di
depannya.
“ Apa mau
mu, Dementer .. apa kau belum puas akan janji yang kau buat dulu, bedebah ”
Pria bernama Hades itu berkata lantang pada kakak perempuannya yang tiba – tiba
datang ke dunia bawah dan langsung berkata bahwa ia akan membunuh putrinya.
Hades mengacungkan
pedang hitamnya tepat di depan batang hidung Dementer. Mata hijau zamrudnya
menunjukkan kebencian luar biasa pada putri sulung Cronos dan Rhea itu.
“ Macaria
adalah ratu dunia bawah, dan putriku ! Macaria juga yang menjadi keindahan
tersendiri bagi kami berdua. Kami bersyukur karena memiliki seorang putri yang
kelak akan meneruskan kekuasaan kami. Dan sekarang kau mau membunuh putriku ! Aku
tidak akan membiarkan hal itu terjadi ” Ucap Hades lantang, membuat seluruh
penghuni dunia bawah bergidik takut. Belum pernah sang dewa semurka itu.
Dementer
sedikit terkejut mendengar hal itu. Namun sedetik kemudian ia tertawa lepas
mendengar perkataan yang baru saja dilontarkan oleh Hades.
“Hahaha
.. kau pikir aku akan takut dengan ancaman mu itu ” Ucapnya dengan nada
mengejek, membuat dewa yang berada di depannya semakin geram.
“ Kau ..
” Akhirnya, Hades berhasil menghempaskan tongkat dan tubuh Dementer. Tongkat
kekuasaan-nya terlempar beberapa meter dari dewi berambut pirang pucat itu.
Mata pedang Hades pun hanya berjarak beberapa senti dari wajah Dementer.
“ Tunggu
Hades, jangan lakukan itu ” Cegah Persephone yang berada di sebelah Hades.
“ Kali
ini kau ku maaf kan, Dementer ” Ucap Hades dengan nada dingin, namun dewi
berambut pirang pucat itu malah membalasnya dengan senyum mengejek.
“ Kau
salah mengambil keputusan, Hades .. suatu hari nanti, pasti aku akan membunuh
anak itu ” Guman Dementer sembari menyunggih kan sebuah seringai.
..End
Flashback..
“
Persephone .. ” Panggil seorang pria bersurai hitam yang berada di belakang
Persephone.
“ Hades ”
Ucap Persephone sedikit terkejut.
“ Kenapa
kau disini ? ” Tanya Hades sembari duduk di sebelah wanita berambut gandum itu.
“ A-ku ..
a-ku ... ” Ucap Persephone gelagapan, lantaran ia sendiri bingung harus
menjawab apa.
“
Sudahlah, tidak usah dijawab .. aku tahu kau sedang memikirkan apa ” Tutur
Hades.
“ Sudah
lama kita tidak melihat ‘dia’ ” Ucap hades, iris zamrud-nya menatap sendu
sungai Styx.
“ Ya, kau
benar Hades .. aku rindu sekali dengannya ” Ucap Persephone lirih, namun masih
dapat di dengar oleh pria di sebelahnya.
OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO
” Ingat
Kano, jangan kembali terlalu sore .. nanti kau bisa tersesat di hutan ” Tutur
wanita paruh baya itu pada gadis berambut merah yang berada di hadapannya.
“ Iya,
baik .. jam 4 tepat aku kan pulang, ibu tidak usah khawatir akan hal itu ” Ucap
Kano yang sudah berada di ambang pintu sembari melambaikan tangannya ke arah
wanita berambut pirang tersebut.
“ Hati –
hati di jalan, Kano ” Ucap wanita itu lagi.
..Sore
hari, di Siena..
Hari
sudah petang, gadis berambut merah tersebut melangkahkan kakinya menuju desa
tempat ia tinggal.
Senandung
kecil terdengar mengiringi langkah kaki mungilnya, iris hijau itu menyiratkan
kebahagiaan akan sekeranjang apel yang telah dipetik-nya di hutan.
Namun
langkahnya berhenti ketika ia melihat pemandangan yang berada di depannya.
Jasad
penduduk desa yang tergeletak disana – sini, darah yang menggenang di sepanjang
jalan dan rumah – rumah penduduk desa yang terlalap oleh kobaran api.
“
Ti-tidak mungkin ” Ucap Kano masih tidak percaya akan hal yang baru saja
dilihatnya.
Se-detik
kemudian terlintas dibenaknya sebuah nama yang membuat firasatnya menjadi
buruk.
“ IBU ...
” Teriak Kano sembari menerobos kobaran api yang berasal dari dalam rumah –
rumah penduduk desa.
Tak lama kemudian, ia sampai di depan
rumahnya.
Di
bukanya pintu kayu tersebut, dan yang dilihatnya se-detik kemudian lebih
menyeramkan dari apa yang ada di dalam fikirannya.
Seorang
wanita berambut pirang telah tergeletak tak bernyawa di hadapannya.
Noda
darah telah menghiasi pakaian biru yang ia kenakan.
“
Ti-tidak, ibu .. jangan mati, jangan tinggalkan Kano sendirian ” Isak gadis
berambut merah itu ketika berada di sebelah jasad ibunya.
Bau anyir
darah memenuhi ruangan tersebut, membuat kepala gadis bernama Kano itu menjadi
sangat berat.
Pandangannya
menjadi buram.Yang diingatnya hanyalah kegelapan pekat yang datang menyelimuti
penglihatannya dan bunyi benda jatuh yang mengganggu pendengarannya, mungkin kah
itu tubuh-nya ?
OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO
” Ugh ..
” Erang Kano yang baru sadar.
Diedarkannya
pandangannya ke sekelilingnya, sebuah ruangan berdiameter 3x3 meter dengan cat
berwarna putih gading.
Sebuah
kamar, sejak kapan ia sudah berada di sini.
“ Kau
sudah sadar ” Tanya pemuda berambut hijau yang baru masuk ke ruangan tersebut,
di tangannya terdapat sebuah nampan yang berisikan sebuah mangkuk sup.
“ Dimana
ini ? ” Tanya Kano pada pemuda asing yang berada di sebelahnya.
“ Ini
dirumahku, aku menemukan mu saat aku akan kembali ke rumah ” Tutur pemuda itu
sembari menaruh mangkuk supnya di atas sebuah meja.
“ Oh ya,
perkenalkan namaku Degel .. kalau nama mu ? ” Ucap pemuda berambut hijau itu
sembari menyunggihkan sebuah senyuman hangat.
“ Kano,
Itsuki Kano ” Jawab Kano dengan sekenanya.
“ Nama
yang bagus ” Puji Degel, terlihat semburat merah tipis di kedua pipi Kano.
“ Makan
lah, kau pasti lapar .. aku akan keluar sebentar, kalau kau perlu sesuatu
panggil aku saja ” Ucap Degel sembari ia langkah kan kakinya menuju ke depan
pintu yang telah terbuka.
“ Arigato
( terima kasih ) ” Ucap Kano lirih menatap siluet pemuda berambut hijau yang
perlahan – lahan mulai menghilang di belokan lorong rumah tersebut.
OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO
...Rodorio,
2 bulan kemudian...
..Di desa
kecil yang terletak di pinggir kota Athen’s..
“ Ano,
Degel – sensei .. kenapa kita harus pergi ke tempat yang bernama Sanctuary ? ”
Tanya Kano pada pemuda yang berada di sebelahnya.
“ Karena
kita harus melindungi Athena-sama ” Jawab Degel singkat.
“
Athena-sama itu siapa, sensei ? ” Tanya Kano lagi, ia tidak paham akan hal yang
dikatakan pemuda yang ia anggap sebagai gurunya barusan.
“
Athena-sama itu adalah orang yang melindungi kita selama ini, jadi sebagai gantinya
kita juga harus melindungi beliau ” Tutur Degel, seulas senyum terukir diwajahnya.
“ Oh.. ”
Ucap Kano lirih.
“ Nah,
sekarang kita sudah sampai ” Ucap Degel lagi, dihentikannya langkah kakinya
begitu melihat tempat yang dituju-nya sudah didepan mata.
“ Selamat datang di Sanctuary, tempat yang
akan menjadi rumah baru mu sekarang ” Ucap Degel tersenyum pada sosok gadis
berambut merah disebelahnya.
...
...
...
...Bersambung...
OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO
/hening/
Uwaaaa.... Saya nggak tau harus ngomong apa >< *slap*
Btw,kalau ceritanya gaje. Gomen, gomen na sai. Saya nggak tau ceritanya harus kayak gimana lagi^^" *seketika digeblak*
Errr... Untuk cerita ini mungkin saya bikin beberapa chapter. Ini baru chapter pertama, dan chapter kedua masih dalam pengerjaan :)
Jadi,buat yang penasaran sama ceritanya. Silahkan menunggu tukang batagor yang ada didekat rumah saya :'D *disambit sendal* /nggakadahubungannyaoiii
Ja matte,minna~ *lambai - lambai sapu tangan*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar